Gerhana...ohh ... Gerhana
kampungku.id - Kota Tanjungpandan menjadi riuh rendah. Beragam bahasa terdengar di tempat keramaian.Di pasar, warung kopi hingga di tempat wisata terasa seperti berada di kota megapolitan. Dari bahasa lokal hingga internasional. Bahkan bahasa ala Tarzan pun kadang terjadi. Namun urang Belitong tidak menjadi risih dengan keadaan ini. Ada yang biasa-biasa saja, yaitu dari golongan cinta damai karena bisa berkenalan dan bersahabat dengan banyak orang lain. Ada yang senang yaitu dari golongan cinta uang karena semakin banyak orang maka semakin besar kemungkinan mereka “berbelanja”. Ada pula yang antusias yaitu pecinta ilmu karena berharap para pendatang ini dapat membagi ilmunya . Pemuka agama dan pemangku adat pun terkesan welkom dengan pendatang ini. Para pendatang ini berpakaian sopan, berbicara sopan (walau kadang sama-sama tidak saling mengerti), berkendara sopan seperti bisa mengikuti kebiasaan orang belitung yang tidak membunyikan klakson ketika lampu hijau menyala, atau menggunakan jalan sebelah kiri walaupun mungkin ditempat asal mereka menggunakan jalur kanan atau bahkan tengah (?)
.
Pemerintah sebagai pemegang otoritas menyambut para pendatang ini dengan gegap gempita. Di sepanjang jalan utama masyarakat diminta memasang umbul-umbul yang telah dibagikan oleh pihak desa. Bahkan umbul-umbul terpasang bukan hanya umbul-umbul desa, karena juga banyak tulisan “Sinyal 4G LTE hadir disini”.
Umbul-umbul sepanjang jalan utama ini membuat Pihor terusik. Dua potong umbul-umbul yang diantar pak RT kemarin sore belum sempat ditancapkan. Padahal walaupun sederhana rumah Pihor terletak di pinggir jalan utama yang jika ada rambu petunjuknya berbunyi : “Tanjungpandan”di coret miring.
Bergegas Pihor pulang ketika toko telah tutup. Sebagai warga yang baik, Pihor harus patuh perintah pak RT-nya :”Besok umbul-umbul ini dipasang, ya pak”. Singkat tapi jelas. Maka ketika sampai di rumah, hal pertama yang dilakukan Pihor adalah mencari kayu untuk tiang sang umbul-umbul. Karena badan lumayan letih, Pihor membuang niat menebang kayu di hutan belakang rumah. Lagian hari sudah sore (ini alasan jika ditanya istri). Tanpa merasa perlu berkonsultasi dengan siapapun, Pihor mengambil dua batang kayu jemuran istrinya lalu ditancapkan di depan rumah setelah dipasang umbul-umbul. “Alhamdulillah…, sudah sama seperti tetangga lain”, batinnya.
Ketika sang buah hati kemudian datang dari eskul dibonceng sang istri, Pihor sudah siap duduk manis di teras samping rumah dan siap meneguk kopi jika nanti dibuatkan oleh istrinya. Syukur-syukur jika ditambahin makanan ringan.
“ Yah….,aku dikasih kacamata gerhana dari sekolah. Besok aku minta izin Ayah yaaa..kelas kami dipilih oleh sekolah buat ngeliat gerhana di Tanjongkelayang.”, cerocos Intan, sang buah hati.
“ Boleh……,berangkat sama siapa ? Jam berapa ? “
“ Ya sama kawan-kawan sekelas lah…, rencananya jam setengah enam sudah kumpul di sekolah”.
“ Siap….,besok pagi ayah yang antar. Biar ayah besok jadi orang pertama yang sampai di toko. Siapa tahu si Bos mau ngasih bonus buat karyawan yang datang kepagian…he he he”, lanjut Pihor santai.
Intan sudah siap melanjutkan cerita, namun :“ Beh…besok abang kerja ? ‘Kan tanggal merah, hari raya Nyepi ….”, sambar nada suara janggal istri Pihor yang datang sambil membawa segelas kopi hitam tanpa makanan pengiring sama sekali.
“ Besok abang tidak boleh kerja. Kita lihat gerhana sama-sama di Tanjongkelayang. Minta izin lah sama si Bos…,abang ‘kan jarang absen…!, sambung istrinya. “ Lagian kita sudah punya ini, beli di toko Babah Bing Ong”, sambil menunjukkan 3 buah sampul putih dengan cap tinta berwarna merah yang ada tulisan : "GMT".
Tanpa diperintah, Intan mengambil satu dan membuka sampulnya. Sebuah kacamata berbingkai karton dengan “kaca” berwarna hitam gelap. mengenakannya, lalu berkata.: “uh gelaap……!”
Pihor tidak menanggapi kelakuan putri semata wayangnya itu, pikirannya teringat ucapan tegas si Bos ketika ditanya Landor temannya : “ Besok kita tetap buka tapi sampai jam 12. Sama kayak hari Minggu !”.
Ucapan si Bos membuat Landor bersungut-sungut, :” Pokoknya besok aku ndak masuk..”, katanya pada Pihor ketika si Bos sudah menjauh. Pihor cuma tersenyum pengertian sama kawannya ini. Namun dalam hati dia berniat tetap masuk kerja besok.
Larangan kerja dari Sri Umeria, sang istri, membuat Pihor berpikir keras. Bagi Pihor membuat pilihan diantara kewajiban sebagai sopir di toko si Bos dan kewajiban sebagai suami yang harus menyenangkan istri, adalah sesuatu yang sangat sulit. Takut dipecat sebagai pegawai atau takut dipecat sebagai suami.
Sampai naik ke tempat tidurpun, keputusan itu belum diambil……
………..
“ Ayah pergi sama Umak ‘kan ngeliat gerhana…?”,sebuah kalimat pertanyaan dari si buah hati ketika Pihor menurunkan Intan di depan gerbang sekolahnya. Pihor hanya tersenyum sambil mengangguk. Bagi Pihor kalimat pertanyaan itu adalah sebuah permintaan yang harus dituruti. Perintah si Bos ataupun perintah istri masih kalah sakti sama permintaan buah hati. Ini adalah sebuah keputusan..!!!
Maka berangkatlah Pihor dan Sri Umeria berboncengan sepedamotor jam enam pagi itu ke Tanjongkelayang. Sri Umeria yang biasanya banyak bicara, sepanjang perjalanan mendadak pendiam. Pihor menduga istrinya makan obat diet ngomong pagi ini atau mungkin batere dari “radio burok” ini sudah soak. Jadilah Pihor menikmati perjalanan ini dengan caranya sendiri.
Namun “kediaman” Sri Umeria mendadak berubah ketika sudah sampai di lokasi acara pemantauan gerhana Tanjongkelayang. Ribuan manusia memadati lokasi ini. Bahkan ada beberapa menteri segala. Tarian dan musik tidak henti memeriahkan acara. Keceriaan Sri Umeria membuat Pihor terhanyut suasana. Pikirannya jadi sangat rileks. Lupa sudah sama si Bos yang mungkin lagi kesal karena dua orang pegawainya tidak masuk kerja hari ini. 2 orang…? Ya..pasti Landor pun ada disekitar sini. “Di sebelah mana dia”,Pihor mencari dengan matanya. Namun yang terlihat adalah kameraman sebuah stasiun televisi terkenal sedang “menshoot” kearahnya. Refleknya sebagai orang kampung adalah mengangkat tangan sambil tertawa lebar. Ketika menoleh kearah istrinya, ternyata Sri Umeria pun melakukan hal yang sama. “Dasar kami memang orang kampung yang berjodoh…”,batin Pihor.
Beberapa saat kemudian setelah shalat gerhana usai, orang-orang mulai mengeluarkan “senjata”nya masing-masing. Sri Umeria mengulurkan kacamata karton kepada Pihor. “ Pakai ini…,biar mata abang gak rusak..”,kata Umeria. “Pada momen begini istriku keluar sifat aslinya…., sangat sayang padaku…”, kata hati Pihor ge er.
Lalu ketika langit dan bumi berangsur gelap, Pihor mulai merinding. “Subhanallah,Walhamdulillah, Wa lailaha Ilallah, Wallahu Akbar”, batin Pihor bergemuruh dalam ketakjuban mendalam. “Kunikmati momen karunia-Mu ini, Ya Allah, karena aku tak tahu apakah akan merasakannya lagi nanti……”.
Lewat kacamata karton, Pihor menyaksikan salah satu kebesaran Allah diatas langit Belitung tercinta. Hingga matahari berbentuk sabit kembali, bumi berangsur terang. Pihor kembali merasakan hiruk pikuk suasana sekitar. Musik di panggung utama pun berkumandang lagi.
Setelah puas melihat-lihat apa saja, Sri Umeria pun mengajak untuk pulang dengan permintaan (lagi). Pulangnya lewat pantai wisata lain yaitu Tanjongtinggi, Jimbaran dan Batu Bedil. Pihor mengangguk siap.
………….
Dengan santai Pihor memarkir sepedamotornya di tempat parkir pegawai toko. Motor Landor pun sudah nampak disitu. Lalu Pihor memasuki tempat kerja seperti biasa.
“Kemana kau kemarin, Pihor…? Kalau tidak masuk kasih tahu duluuu…, haiyyaa..!!”. Si Bos bertanya dengan nada biasa.
“ Duh maaf Bos….,kurang sehat aku kemarin”, jawab Pihor sambil melirik Landor yang langsung tertunduk.
“ Aduh Pihooor….,kau tidak punya bakat jadi pembohong. “
“Maksud Bos…?”
“Kurang sehat macam mana……, kau ketawa lebar sambil melambai tangan di TV. Istrimu juga. Kami nonton TV sama-sama disini. Iya ‘kan ‘Ndor…..??”, si Bos melirik Landor.
“ Haaaah….. aku masuk TV Bos ??? Istriku juga…?? Anakku nampak tidak di TV, Ndor ?”
“Jadi memang benar kau sekeluarga ke Tanjongkelayang kemarin, bukan sakit ‘kan…?”, pertanyaan Bos ini tidak perlu mendapat jawaban.
Pihor ngeloyor sambil menyikut Landor.
Gerhana total ini memang berkesan……. !!!!




Tidak ada komentar: