Billiton Heritage Society
kampungku.id - Jika anda berjalan-jalan di seputaran kota Tanjungpandan, mungkin sekali waktu akan melihat sebuah bangunan yang didepannya tertulis keterangan bahwa bangunan tersebut adalah sebuah bangunan bersejarah / cagar budaya. Kalau lebih jeli lagi, mungkin akan melihat lebih banyak papan keterangan seperti itu di depan bangunan lain.
Hal itu menyiratkan bahwa sudah sejak lama beragam bangsa telah meninggalkan jejak peradaban yang memperkaya khasanah budaya Belitung. Yang paling mudah untuk dilihat memang peninggalan berbentuk fisik baik berupa rumah, gedung, tempat ibadah bahkan pemakaman.
Sadar akan kekayaan berupa bangunan dan warisan sejarah yang tersebar di seluruh bagian pulau Belitung, pada tahun 2000, beberapa orang melakukan diskusi untuk membuat suatu komunitas pecinta warisan sejarah fisik ( heritage ) di Belitung. Ide awal pembentukan kelompok ini justru berasal dari seorang Jepang yang bernama Prof. Dr. Eng. Hideo Izumida , professor yang mengajar di Toyohashi University of Technology. Kehadiran beliau ke Belitung didampingi oleh Ir. Johannes Widodo, M.Arch.Eng, Ph.D, seorang associate professor yang mengajar di National University of Singapore serta Ir. Hongky Listiadi, seorang arsitek asal pulau Bangka.
Sebagai orang-orang yang berlatar belakang arsitek dan konservasi heritage, ketiga orang ini bersepakat untuk mendorong dibentuknya suatu komunitas pecinta heritage yang terdiri dari masyarakat pulau Belitung. Singkat cerita, berkumpullah ketiga orang pakar tersebut dengan Rosihan Sahib, Sahani Saleh, Cary Sutan Lubis, Ahmad Hamzah, Karyadi Syahminan, Herlin.F, Wanda Bayazid serta Fitrorozi. Gayungpun bersambut...., komunitas yang diharapkan pun terbentuk.
BILLITON HERITAGE SOCIETY adalah sebuah nama yang mungkin belum
pernah anda dengar. Namun itulah nama komunitas yang dibentuk atas prakarsa seorang jepang yang peduli akan keberadaan bangunan bersejarah di pulau Belitung.
Tugas utama dari komunitas ini adalah berusaha memfasilitasi perlindungan, pengembangan dan pelestarian bangunan-bangunan bersejarah di Belitung. Kerja keras pertama mereka di awal pembentukannya adalah ketika pemerintah daerah berencana mengalihfungsikan lahan Kelenteng Hok Tek Che yang terletak di jalan Kelenteng (sekarang Jl. S.Parman). Dengan pendekatan yang intens dengan pihak Pemda, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Malahan sekarang telah terpampang papan dari Dinas Pariwisata yang menyatakan bahwa bangunan tersebut merupakan Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang no. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Tugas lainnya adalah memberi masukan kepada Dinas Pariwisata tentang bangunan-bangunan yang dapat dijadikan cagar budaya. Walaupun hanya sebatas masukan, karena untuk penetapan suatu bangunan sebagai bangunan cagar budaya akan melalui jalan yang cukup panjang. Antara lain misalnya harus melalui penelahaan dan penelitian oleh tim arkeolog resmi .
" Ada sekitar 27 bangunan bersejarah di pulau Belitung", ujar Rosihan Sahib, BA yang akrab disapa Pak Sihan. Beliau adalah Ketua Billiton Heritage Society. Ada rumah suster Hesty yang terletak di sebelah RSUD sekarang, Ada Los Singkek, di kawasan Air Kolong. Bahkan ada pula situs bersejarah berupa makam-makam para Tetua dan Pemimpin Belitung di masa lalu. Beberapa dari makam ini terletak dikawasan hutan namun ada juga yang masuk dalam wilayah kerja perusahaan kelapa sawit yang beroperasi dipulau Belitung.
Untuk situs-situs bersejarah berupa makam yang berada di wilayah kerja perusahaan kelapasawit ini, Pak Sihan selaku Ketua Billiton Heritage Society mengharapkan kepada perusahaan agar situs-situs itu dapat dijaga kelestariannya dan dirawat dengan baik karena disitu terdapat sejarah yang harus diketahui oleh generasi mendatang.
Juga ada sebuah situs bersejarah di kecamatan Sijuk yaitu situs Mentikus. Situs ini dulunya adalah sebuah lokasi penambangan timah yang sangat besar , yang dikelola oleh Belanda. Konon ceritanya pernah terjadi kecelakaan tambang terbesar pada dekade 1930-an. Situs ini juga berada di areal yang merupakan wilayah kerja sebuah perkebunan kelapa sawit.
Billiton Heritage Society dalam kiprahnya, bekerja sama dengan organisasi sejenis di tingkat regional maupun nasional. Di tingkat regional, Badan Warisan Sumatra adalah semacam induk dari komunitas ini untuk wilayah Sumatera.
Hal yang tak kalah penting, Billiton Heritage Society ini ternyata telah terdaftar di UNESCO ( United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organization ) sehingga sepak terjang komunitas ini selalu berpedoman pada semua peraturan dan ketentuan yang ada.
"Melestarikan bangunan bersejarah sebenarnya sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggalakkan pariwisata di Belitung", lanjut Pak Sihan. " Kita ambil contoh Kota Sawahlunto yang berhasil bangkit dengan wisata tambang yang terkenal. Pemda setempat memberdayakan bekas bangunan dan peralatan yang digunakan penambangan batubara zaman Belanda. Dan ternyata hal itu mampu mendatangkan banyak turis ke Sawahlunto".
Ini berarti kita menambah satu jenis wisata lagi yang bisa kita optimalkan di Belitung.
Wisata Sejarah.....!!!
Demikian kisah sebuah komunitas yang mungkin belum pernah terdengar tapi ternyata gaungnya sudah sampai ke organisasi kelas dunia.
Selamat berkiprah Billiton Heritage Society.....!!! Semoga kebaikan yang kita tanam hari ini akan berbuah manis pada kehidupan anak cucu kita di masa depan. Amiin.....
![]() |
| Kelenteng Hok Tek Che, sumber http://wesajelajahindonesia.blogspot.co.id/2013/08/kelenteng-hok-tek-che-belitung.html |




Tidak ada komentar: