Slide show

[Khas][Slideshow]

Asal Nama Belantu

kampungku.id - Syahdan, pada jaman dahulu kala terdapatlah sepasang suami istri yang tinggal di sebuah ladang. Ladang ini berdekatan dengan sebuah sungai kecil . Pekerjaan sehari-hari suami istri ini adalah menanam padi di ladang/huma ( ume, bhs.Belitung). Juga bertanam sayuran untuk keperluan hidup sehari-hari. Namun terkadang untuk menambah lauk pauk, mereka pun biasa pergi ke laut yang terletak tidak jauh dari ladang mereka. Petani ladang ini hidup berbahagia dengan sang istri walaupun belum dikaruniai keturunan oleh Sang Maha Pencipta. Pada suatu hari, sepasang suami istri ini pergi ke laut bermaksud menangkap ikan dengan cara menuba (nube, bhs.Belitung). Yang dimaksud dengan menuba adalah teknik menangkap ikan dengan cara menuangkan cairan olahan akar pohon tuba yang membuat ikan mabuk untuk sementara waktu sehingga mudah untuk ditangkap. Menuba dilakukan ketika air sedang surut/kering. Jika diperhatikan pada waktu air laut sedang surut, akan terdapat semacam genangan air berupa danau kecil yang dikenal sebagai “palo”. Di palo ini lah kegiatan menuba dapat dilakukan karena masih terdapat ikan-ikan kecil yang berdiam/terperangkap dalam genangan air setinggi betis orang dewasa tersebut. Sedangkan jika menuba dilakukan pada saat air sedang pasang adalah sesuatu yang mustahil karena air olahan pohon tuba itu tidak akan mampu untuk memabukkan ikan didalam air laut yang volumenya sedemikian banyak. 
Asal nama Belantu
Sepasang suami istri ini pun berjalan dari satu palo ke palo yang lain. Namun sayang, dari sejumlah palo yang telah mereka hampiri tidak ada ikan yang terperangkap disitu. Mungkin nasib mereka pada hari itu kurang begitu baik sehingga ikan yang hendak ditangkap nyaris tidak ada. Sementara seiring berjalannya waktu, air laut sudah mulai beranjak pasang.  Akhirnya mereka berniat pulang sebelum pasang laut terus meninggi. Dalam perjalanan pulang ke pantai, mereka melihat sesuatu yang aneh. Sepotong bambu/buluh yang besar ( bulo betong, bhs . Belitung ) tampak terombang-ambing diatas air. Keanehan yang mereka lihat adalah buluh itu bukan mengikuti arus air akan tetapi malahan melawan arus air seakan-akan ada tenaga gaib yang menggerakkannya. Terdorong oleh rasa penasaran, akhirnya diambillah bambu tersebut , lalu dipikul untuk dibawa pulang. Tidak ada yang aneh ketika bambu itu dipikul diatas bahu peladang tersebut. Sesampainya di rumah, bambu/buluh itu disandarkan dekat tangga rumah. Ketika sang istri berniat menjemur padi, digunakanlah buluh itu sebagai penindih tikar alas jemuran padi agar tidak melayang diterbangkan oleh angin. Istri sang peladang kemudian bergegas ke dapur untuk memasak hidangan makan siang mereka sementara sang peladang berbaring santai di serambi depan rumah, menunggu sang istri selesai memasak. Keheningan ladang terusik ketika sebuah letusan keras terdengar menyentak kesadaran sepasang suami istri ini. Keterkejutan mereka bertambah ketika usai suara letusan, terdengar suara tangis bayi. Tanpa membuang waktu, mereka berdua memburu kearah datangnya suara tangis bayi itu. Betapa herannya mereka ketika melihat pada belahan bambu untuk menjemur padi tadi tergolek seorang bayi laki-laki yang terus-terusan menangis. Tanpa pikir panjang sang istri peladang segera mengambil bayi yang kepanasan itu lalu dibawa ke rumah diikuti oleh suaminya. Bayi itu lalu diselimuti dan dibaringkan diatas tikar didalam rumah. Sang suami yang masih bingung dengan kejadian ini bergumam : “ Buluh ini di belah hantu”. Atau dalam dialek sana terdengar : “bulo ini di belantu “. Kedua orang itu kemudian terlibat pembicaraan yang panjang, membahas kejadian yang baru terjadi. Pembicaraan itu akhirnya sampai pada suatu kesadaran bahwa bayi tersebut harus diberi nama. Setelah beberapa waktu, keduanya sepakat untuk memberi nama “ Belaantu” pada sang bayi. Menurut dongeng tersebut, Belaantu kemudian tumbuh dan besar selayaknya manusia biasa dan dirawat dengan baik oleh sang peladang dan istrinya. Nama itu terus disandangnya hingga akhir hayat tiba . Jenazah Belaantu kemudian dimakamkan di dekat ladang orangtuanya. Belum ditemukan riwayat tentang keturunan Belaantu ini. Makam tersebut sekarang masih ada , yang terletak di desa Mentigi kecamatan Membalong. Tepatnya di dekat sungai kecil bernama “Aik Belantu” atau sungai Belantu. Sungai kecil ini membelah jalan raya antara Mentigi – Cepun di Km. 65-66. Makam kuno tersebut oleh masyarakat setempat dikenal dengan kuburan “ Tuk Belantu”. Demikian dongeng tentang asal nama Belantu ini.  Tentang kebenaran dongeng ini , Wallahu ‘alam bissawab. …………………………………….  Disunting dari buku “Dongeng-dongeng Daerah Belitung” karya Bapak Ramli AK.

Tidak ada komentar:

vehicles

business

health